Kalian Yang Masih Peduli

Merasa gak, kalau kita kadang abai dengan diri sendiri, kadang setiap kita melakukan kesalahan kita bahkan menyalahkan diri sendiri. Mungkin saja kita berpikir, yah daripada menyalahkan orang lain mending menghakimi diri sendiri. Kapan terakhir kali kita love self, jarang yah? Kenapa harus begitu, kenapa harus menyalahkan diri sendiri? Apa mungkin karena kita terlalu memaksakan diri untuk sempurna dan pada akhirnya ketika gagal, menyalahkan diri sendiri menjadi pelampiasan. Keadaan seperti itu, rasanya kurang sehat untuk diri kita, yang seharusnya kita sendiri yang care tapi malah kita yang mengabaikan diri sendiri. Jadi teringat waktu memposting sebuah status di WA story, begini “Kalau bukan kita sendiri yang care dengan diri sendiri, siapa lagi” ada komen setuju dengan argumen itu, pun ada yang mengatakan banyak kok di luaran sana yang peduli. Ternyata memang, banyak yang peduli, kalau merasa tidak ada, mungkin saja hanya perasaan semata.


Peduli dengan diri sendiri itu sangat penting, entah apapun pencapaian kita, karena diluaran sana banyak yang ingin pencapaian seperti diri kita sekarang. Peduli dengan orang lain pun merupakan hal yang penting, mengapa? Banyak orang yang butuh kepedulian kita, tentunya. Bentuk peduli kita pun bisa berbeda-beda, ada yang memberi saran, bantuan secara langsung, dan pun memberi perhatian lebih. Coba jadikan peduli itu teman kita. Ada baiknya kita sama-sama peduli juga. Terima kasih untuk kalian yang masih peduli dengan saya, untuk kalian juga yang rela menjadi pendengar terbaik saat saya bercerita banyak hal. Kepedulian kalian mengajarkan saya, banyak mendengarkan kemudian memberi saran, banyak memberi ketika kita masih bisa, berkorban, melindungi, dan banyak hal baik lainnya.

sekali lagi terima kasih untuk kalian yang perduli❤

Merasa Sendiri dan Kesepian, Padahal Tidak Seharusnya

Merasa sendiri adalah hal yang sering saya alami, yah wajar juga karena relasi pertemanan saya yang minim. Paling tidak saya hanya aktif di WhatsApp dengan teman chating yang itu-itu saja yah grup yang beranggotakan lima orang, saya dan empat orang teman. Sebenarnya ada beberapa grup yang sering aktif seperti grup kelas dan komunitas tapi saya sangat jarang nimbrung di sana, bahkan sampai ketinggalan seribu lebih isi chat, yang jika saya baca dari atas sampai bawah maka saya akan mumet dibuatnya jadilah saya tekan tanda untuk menuju ke pesan paling bawah. Palingan jika saya baca hanya sepuluh pesan terakhir, makanya saya sering ketinggalan informasi.

Pinterest


Perasaan sendiri ini tidak hanya berlaku di chat WhatsApp saya bahkan kadang di luar itu, misalnya saja proposal yang tidak kunjung selesai saya revisi, artinya jalan di tempat. Dampak dari rasa sendiri dan kesepian itu entah mengapa semakin membuat saya malas. Sampai ketika seorang teman menanyakan “Bagaimana proposal kalian?” saya jawab saja “Jalan di tempat” ketika ditanya soal karya tulis ilmiah itu saya menjadi tidak berselera bukan apanya, jalan yang harus saya tempuh rasanya sulit, fasenya sekadar mengerjakan-revisi-revisi-dan revisi, entah kapan akan berakhir. Setelah itu teman kembali merespon dengan pernyataan “Ternyata saya tidak sendiri.” Dari sana saya sadar bahwa tidak seharusnya saya merasa sendiri, karena bagaimanapun keadaan saya, kekurangan uang, ilmu, relasi teman, proposal yang tak kunjung selesai, dan keadaan lainnya ternyata saya tidak sendiri merasakannya. Masih banyak orang diluaran sana yang bahkan lebih kesusahan dari pada keadaan yang saya alami. Hanya perlu menggapi keadaan itu dengan bijak.


Menjadi anak broken home yang selama ini saya rasakan adalah kejadian yang paling sering menghantui setiap lini kehidupan saya. Saya merasa sepi dan sendiri, oleh karennya banyak kegiatan yang terbengkalai dan banyak perasaan psimis yang tertanam. Tapi tidak seharusnya lagi saya terpuruk, perasaan sendiri itu ternyata adalah momok terhebat yang bisa menghancurkan saya toh banyak juga anak yang merasakan broken home but her can do anything in life termasuk memperbaiki keadaan. Merasa sendiri dengan masalah itu adalah intimidasi bagi otak saya dan tidak seharusnya saya melakukan itu.


Merasa sendiri dan kesepian ternyata tidak hanya di alami oleh orang yang mempunyai masalah serius dalam hidupnya. Tapi sebagai manusia kita semua pasti pernah merasakan hal itu, bahkan yang paling parahnya adalah merasa sendiri dan sepi ditengah keramaian, banyak sebabnya satu di antaranya adalah berteman dengan jalinan pertemanan yang mementingkan kuantitas semata. Banyak tapi tidak ada yang bisa mengerti keadaan kita, yang pada akhirnya membawa kita pada perasaan sepi itu. kalau begitu ketahuilah apa yang membuatmu merasa sepi dan coba cari jalan keluarnya. Misalnya dengan sadar bahwa masalah yang sama dengan kita juga dialami beberapa orang lain. Itu akan sedikit membantu kita.

Masalah itu yang sering membuat saya berpikir bahwa hanya saya yang meraskannya, padahal tidak kan, bagaimana dengan kalian apakah kita punya masalah yang sama?

Sepanjang Jalan

Setelah menyadari bahwa ternyata perubahan adalah niscaya maka saya tidak pernah menuntut sesuatu untuk tetap seperti itu saja, pun perasaan seseorang kepada saya. Seorang sahabat hari ini bisa saja sangat akrab tapi karena suatu kejadian maka meraka bisa tercerai. Pasca-COVID-19, maka pola tatanan hidup pun berubah. Tidak ada yang bisa disalahkan dari semua hal itu, bahwa kita akan beradaptasi dengan keadaaan.

Jalan yang biasa kita lalu pun berubah semakin sepi dan senyap. Biasanya motor berlalu lalang tak ada yang ingin didahului seperti profesor Virus dalam film Tri Idiots. Maka sekarang sepanjang mata memandang adalah legang tanpa kendaraan yang saling dahulu mendahului. Aspal hitam merasa lega punggungnya yang selama ini sakit bisa beristirahat sejenak, pun dedaunan yang tak kuasa menehan pengap asap kembali menghirup oksigen paling bersih seperti pagi hari.

Sepanjang jalan yang saya lalui hanya satu yang selalu terasa sama, itu adalah kenangan. Setiap jalan-jalan legang, saya hanya bisa menarik nafas sejenak bukan berusaha melupakan kenangan bersama sahabat dan orang lain yang pernah bersama tapi berusaha mengenangnya dalam-dalam dan mengambil pelajaran dari kebersamaan kami dahulu.

Saat menghirup nafas dan memejaman mata sejenak saya merasa kejadian itu berulang di depan mata saya, bahwa saya dan tiga orang sahabat melewati jalan setapak ini, tertawa riang melepas gunda selepas sekolah, berbonceng ria tanpa khawatir kita akan dimarahi jika pulang terlalu sore. Terulang kembali kejadian saat saya dan bapak, saya dan teman-teman. Yahh, semuanya. Sepanjang jalan hanya menyisahkan sebuah kenangan.

Bahagia

pinterest

Saya sangat paham bahwa kita punya jatah bahagia dengan porsi yang berbeda-beda, tapi paham itu belum mampu memberi penjelasan ke hati terdalam saya. Terkadang masih sempat berkeluh-kesah akan kehidupan ini, memanggil bahagia. Padahal dia begitu dekat, yah sangat dekat, hanya kita yang perlu menciptakan. Memang benar seperti itu, sesederhana apapun kehidupan kita ketika terus bersyukur, terciptalah kebahagiaan.

Pernah satu waktu, saya sedang melaksanakan kegiatan di suatu desa, masih tergambar jelas. Entah dari mana obrolan itu terjalin dengan seorang teman.

“Kalau bisa tampil sederhana, kenapa harus berlebihan.” Dia tampak heran dengan perkataan saya, saya lalu membuang muka, berkata dalam hati “apa yang salah?”

“Kalau bisa tampil lebih kenapa harus sederhana.” Begitu tanggapannya.

Sampai saat ini kata-katanya masih tergambar jelas dengan mimik mukanya. Di saat itu otak saya mulai bergulat memikirkan, apakah sederhana terlalu ganjil untuk ditunjukkan, apakah seseorang harus selalu tahu kelebihan-kelebihan yang orang lain miliki, dan untuk apa semua itu? Sampai sekarang saya masih berpegang teguh pada kata sederhana dan saya bahagia dengan itu.

Sekarang pun saya masih gagal paham, untuk apa semua itu ditunjukkan pada orang lain? Juara satu lomba, prestasi bergelimpangan, dan lain-lainyaa. Ahhh, atau seandainya saya yang ada di posisi mereka, apakah saya akan melakukan hal seperti itu juga? Sayangnya saya tak punya semua itu. Saya hanya punya rasa kismis, ehh psimis.
Selain porsi yang berbeda ternyata, bentuk kebahagiaan kita berbeda-beda pula. Sederhana atau lebih dari itu, pilihan bahagia ada di hati kita.

Lagu Kesukaan Tetangga

Ternyata lagu favorit tetangga akan dengan mudah kita hafal di luar kepala. Buktinya tidak terhitung beberapa lagu yang sering tetangga ataupun sepupu saya sering dengarkan sudah saya hafal. Setiap pagi atau saat-saat dia galau sendiri, lagu teesebut diputarnya, hitung-hitung 20-30an dalam sehari, segitunya yah. Padahal tak ada niatan hati ini menghafal lagu-lagu tersebut, apalagi dengan lirik-lirik yang senduh begitu, bisa saja saya tiap hari galau tanpa sebab.

Pinterest

Dalam hal ini, bukan salah siapa-siapa, namanya juga hidup di lingkungan sosial. Biarlah lagu favorit yang diputarnya tiap hari membuat dia bahagia, toh itulah caranya untuk bahagia, kitakan punya cara masing-masing untuk bahagia. Paham😐. Kalau kita gak bisa buat orang lain bahagia, minimal jangan ganggu kebahagiaannya selama masih di batas normal.

Lagu-lagu itu seharusnya tersimpan di memori jangka pendek, ehh malah tak tersimpan di memori jangka panjang. Yah sesuatu yang menurut saya gak penting-penting amat tapi kok malah tersimpan di memori jangka panjang. Malah sesuatu yang mati-matian ingin dihafalkan ehh besok juga udah lupa.

Waalaaahh, tapi dari sini saya bisa belajar praktek langsung tentang metode pengulangan, dengan mendengarkan tiap hari maka kita akan hafal. Metode ini disebut sebagai metode takrar.

Kalian juga pasti seperti itu kan, kalau udah ada favorite song udah pasti tiap hari akan dengarkan, coba kecilin sedikit volumenya, jangan kayak tetangga saya yang meenggunakan speaker mitsuyama MS-4040 dengan volume yang ditinggikan hingga melanglang buana ke angkasa. Hihihi.

Aegea

Kali ini saya berkesempatan untuk wawancara dengan satu tokoh dalam buku favorite saya. Saya berhayal mewawancarai Aegea, tokoh dalam novel yang berjudul Aegea by Suzee. Novel yang penuh perjuangan di dalamnya, setiap tokohnya memiliki nama yang unik, pun kisah mereka untuk mencari jalan menuju Tanahkoraa, tanah impian bagi survivors, baik dari pulau Jonvis maupun pulau lainnya.


Pertama, mengapa setiap kaum ingin melakukan ekaodus ke Tanahkoraa? Karena dengan berada di Tanahkora mereka akan mampu membangun peradaban dan asalkan kalian tahu, tanahkora juga merupakan tanah yang subur.


Kedua, perasaanmu harus diuji dengan sebuah takdir, bahwa setelah menyelamatkan bumi kau akan dipisahkan dengan Jared seseorang yang membuatmu jatuh cinta saat merjalanan menuju Tanakoraa, apakah kau menyesal dengan semua itu? Tentu saja tidak, sebagai sosok penting untuk menjaga kestabilan bumi, sudah tentu itu adalah tanggu jawab saya dan masalah perasaan, semuanya akan berlalu, semua akan kembali, seolah terjadi apa-apa di antara aku dan Jared.


Ketiga, setelah mengetahui ayahmu kembali dari Tanahkora dan akan membawa semua kaum Jonvis ke sana, namun tragedi kembali terjadi tsunami datang dan yah ayah dan ibumu meninggal, bagaimana perasaanmu? Tentu saja saya sangat sedih menghadapi kenyataan ini, namun saya hidup untuk satu tujuan menyelamatkan kaum jonvis dan menyelamatkan bumi, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk itu, kehilangan adalah cobaan, semoga saya bisa sabar menghadapi semua itu.


Sekian wawancara saya dengan Aegea, semua jawaban berdasarkan perkiraan semata. Ohiya novel ini sangat saya rekomendasikan, bagi kalian yang suka dengan novel bergenre petualang. Kalian akan bertemu dengan Aegea dan yah tanyakan saja apa yang ingin kalian tanyakan

Langit

Langit sepanjang hari sangat cerah. Kalau langit sedang cerah begini, saya jadi teringat saat-saat ke kampus atau pulang dari kampus bersama satu orang sahabat. Selalu saya katakan padanya “Langit memang mengerti perasaan saya.” Hehehe, dia juga selalu mengiyakan.

Ohiyaa, inilah tampilan langit dari kotaku.

Apa Kesukaanmu?

Hai, apa kamu punya kesukaan? apa alasan yang membuatmu suka? apa karena sesuatu itu punya hubungan spesial denganmu atau karena itu kenangan-kenangan dari seseorang, hmm, jangan sampai yookk itu tandanya kamu belum muvoon ehh move on.

Soal kesukaan, kita juga berbicara pilihan, dan sudah pasti itu besifat subjektif. Kesukaan kita belum tentu disukai orang lain. Jadi kalau ada yang bertanya, “loh kok suka sih, padahal ini, itu.” Jangan pusing pikirkan jawabannya, karena kita berhak tentukan pilihan kita. Jangan sampai hanya mencari jawaban mengenai kesukaan, kita akan terjebak dalam labirin yang gelap.

Suka dan cinta harus kita bedakan, karena jangan sampai kita hanya sekadar suka lantas kita anggap itu cinta, coba tanya pada diri kalian. Jangan terjebak oleh rasa suka. Hikks.

Mengenai celoteh kesukaan di atas, saya akan memaparkan kesukaan beberapa orang yang saya wawancarai kali ini, mereka punya perbedaan karakter, so kalau dia punya kesukaan yang berbeda dengan kalian, itu tandanya sesuatu itu ada kelebihan di matanya, dan kalau pun sama mungkin saja karakter kalian juga sama. Yuks check it down.

Pertama, dari dia yang sulit mendeteksi kesukaannya, teman saya yang satu ini tergolong dalam manusia labil sejagat di Indonesia raya ini, maklum yah mungkin faktor umur. Saya kadang berpikir bagaimana Indonesia bisa maju ditangannya, tapi kita lihat saja, jangan sampai kelak dia menjelma jadi seseorang paling bijak di dunia. SEMOGA. Sangat ribet bertanya ke dia soal kesukaan. Mengenai lagu kesukaannya saja saya harus sampai diajak berpikir, karena dia tak tahu judulnya. Setelah bergulat dengan pikiran ternyata judulnya “Menepi” entah dia ingin menepi dari siapa, apakah dari seseorang yang pernah menyakiti? Kalau film kesukaan katanya dia suka “Pee Mak” film bergenre horor komedi dari negeri Gajah Putih, jangan sampai alasannya suka, karena dia hanya pernah menonton film itu? Hahaha Bercanda. Soal warna kesukaan, setelah saya wawancarai, katanya dia suka warna pastel, dusty pink, dan krem, banyak juga warna kesukaanmu. Mengenai buku kesukaan, juga saya di ajak ribut, jadilah saya katakan dalam hati “Yah udah sebut genre saja.” Dia sukanya yang petualang like bukunya Tere_Liye serial Bumi. Terakhir jenis bunga kesukaan, katanya sih sakura, tapi saya tak percaya. Hahahha, akhirnya saya terbebas dari wawancara ini dengannya meski percakapan kami semalam berlanjut tanpa makna. Hahahha.

Kedua, dari dia sahabat sedari kecil sampai sekarang. Sebenarnya saya suka memancingnya untuk curhat, bahkan ketika dia tidak berniat. Saya juga senang bercerita banyak hal kepadanya. Soal baper dia juga manusia biasa kok yang senang baper, tapi jangan berlarut-larut yah itu pesan saya. Lanjut, mengenai kesukaannya, dari lagu, film, warna, buku, dan jenis bunga. Dia suka lagunya Perfect by Ed Sheeran. “Kiss me” versi pemain Thailand menjadi film kesukaannya, wah saya jadi heran kok teman yang pertama dan sabahat saya ini suka film Thailand, jangan sampai ketularan dari saya? Entah. Dia suka beberapa warna, biru, hitam, putih, dan merah. Jenis bunga kesukaan, juga sama dari kebanyakan perempuan, yakni mawar, entah dia suka mawar warna apa. Terakhir buku kesukaan “The Old Man and The Sea.” Sudah cukup informasinya. Ehhh, karena saya tidak memberitahunya untuk apa wawancara saya ini, dia pasti mengira saya akan memberinya kado ulang tahun maklum di bulan Mei, dia akan bertambah usia. “Semoga berkualitas hidupmu.”

Ketiga, dari teman komunitas, yang karakternya saya suka banget beda dari yang lain. Kami juga belum lama kenal, tapi ternyata usut punya usut setelah berkenalan, kami sefakultas, dia juga punya kebiasaan tidur di mana pun, yah kalau sudah mengantuk. Dia juga termasuk susah dibangunin, kayak saya, eeh. Kalau boleh saya beri julukan dia itu simple girl jawaban wawancaranya juga simple, gak ribet kayak yang pertama, hahhahaha. Lagu apa, jenis bunga, warna, buku, dan film apa? Lagu, When You Love Someone by Endah N Rhesa. Jenis bunga, melati. Saya sudah baca sedikit mengenai melati putih atau jasminum sambac ini adalah satu di anatara bunga nasional Indonesia, wah. Gadis dengan warna kesukaan pink, film kesukaan Foxtrot Six, terakhir buku kesukaan Rotasi dan Revolusi by Crowdstroia. Cuss yang mau kasih hadiah untuk yang satu ini, cekk kesukaannya dulu. Hahahahaa.

Yeyyy penutup, dari adek kesayangan, paling suka mengajak ke majelis ilmu, meskipun kadang saya kadang menolak, maaf yah dek. Jangan kutuk kakakmu ini, menjadi kodok muara dan jangan bosan mengingatkan, etss satu lagi, jangan menolak jadi adik ipar hahhaha, bercanda. Tidak menyangka dulu kamu suka film dan lagu India “Kal Ho Na Ho” tapi kalau sekarang gak suka dan gak ada lagu dan film kesukaan itu hakmu, kakak tidak melarang. Eheemm. Suka mawar dan warna pink. Terakhir Suka buku Pramoedya Ananta Toer “Bumi Manusia.” Kalau kesukaannya sudah saya ketahui tinggal tunggu hadiah. Wkwkwk, bercanda.

Sekian hasil wawancara saya dengan mereka, yang menurut saya spesial kali ini untuk diwawancarai. Dari hasil wawancara kali ini, saya tahu deh kesukaan mereka. Next jangan bosan yah untuk saya wawancarai meski hanya sekadar bertanya “Apa kesukaanmu?”

Peninggalan Nenek

Peliharaan peninggalan nenek cukup membawa keuntungan bagi kami anak, cucunya. Sudah beranak pinak, anak-anaknya yang jantan pun laku terjual. Kalau yang betina dipelihara lagi, beberapa orang turut memeliharanya, dengan  ketentuan, kalau si Mbekk, melahirkan satu anak, maka anaknya itu dijual hasilnya dibagi dua. kalau Mbek melahirkan dua anak, maka satu untuk pemelihara satu untuk pemilik.

Kalau ada keuntungan, maka kesusahan juga ada dibalik itu. Tentunya sangat susah memeliharanya, soal makanannya, apalagi kalau musim hujan, sawah-sawah tidak bisa jadi tempatnya mengembara seenaknya, karena ditanami padi, makaa jadilah dia Mbekk manja yang diantarkan makanan, masih untuk tidak dimandikan.

Semasa SD aku suka membantu nenek memiara Mbekknya. Senang mengingat masa-masa bersama nenek. Panjang umur peliharaan nenek, semoga masih setia beranak pinak.

Beberapa Kegiatan

Menyingkap tirai jendela sebenarnya bukan kegiatan saya setiap pagi, padahal, pappasang tau toa atau dalam bahasa Indonesianya nasehat dari orang terdahulu mengatakan, sebagai seorang anak gadis rajin-rajinlah menyingkap jendela setiap pagi, lebih awal, agar rezeki (berupa apapun itu, kesehatan, ilmu serta jodoh) bisa cepat datang menghampiri.


Pagi ini saya sekadar menengok ke luar, dari jendela mata saya mendapati beberapa kegiatan, anak-anak dengan permainan kelerengnya, bermain di halaman rumah seorang tetangga, halaman yang tanpa sehelai daun pun, sebab setiap kali daun itu gugur di tangkainya siap-siap saja sapu lidi akan menghempasnya, tetangga saya sangat rajin membersihkan.


Terlihat juga terpal berwarna-warni siap dibentangkan untuk mengeringkan gabah, tepi jalan menjadi tempat dibentangkannya terpal-terpal itu sebab sebagian warga tidak punya halaman yang luas untuk mengeringkan gabah. Saya terkadang tercengang melihat kegigihan mereka unutk mengringkan gabah, karena selain terik matahari mereka juga bepuasa, mungkin saja kebiasaan bekerja tidak surut meski sedang menjalankan ibadah puasa.


Saat menoleh keluar jendela, saya juga mendapati pakaian dijemuran. Hal yang menarik di perkampungan ini, bukan hanya saat saya menoleh keluar jendela, tapi ketika saya berada di beranda lalu memandang rumah-rumah tetangga, jemurannya setiap pagi pasti sudah penuh dengan pakaian. Pernah suatu kejadian mereka bercekcok hanya karena masalah jemuran. Sebut saja namanya Besse’ menjemur di jemuran milik tetangganya tanpa permisi atau sekadar bertanya “kamu hari ini mencuci atau tidak?” Lantas setelah tetangganya usai mencuci, dia marah karena ternyata jemurannya sudah terpakai.