Penulis(?)

Pernah saya ingin memosting tema tentang ingin menjadi penulis. Namun, saya urungkan niat itu, menurut saya tidak mungkin. Hahahaha padahal tidak salah jika seseorang mempunyai harapan untuk menjadikan dirinya seperti apa yang dia inginkan. Dulu-dulu saya tidak gemar membaca bahkan mungkin hanya baru-baru ini saja saya gemar membaca. Ilmu minim😂. Tapi tak apa saya cukup senang menjadi penulis abal-abal, tidak perlu penulis yang begitu profesional. Hahahaha.

Menulislah, seremeh-temeh apa-pun itu. Sesungguhnya menulis adalah sebuah kelegaan yang menyenangkan.

@kucca

Hal yang membuat saya menulis meskipun hal yang remeh-temah adalah sebuah kebahagiaam itu saja. Saya juga senang bertemu dengan teman-teman yang juga suka menulis. Ngobrol seputar tulisan, novel yang pernah dibaca uhh rasanya seru banget.

Menurut buku yang baru-baru ini saya ajak ngobrol katanya

Hai chan,

Ada apa wahai buku?

Milikilah definisi tersendiri tentang menulis bagi dirimu.

Baiklah, aku akan menuliskannya pada stick note. Menulis bagiku adalah menciptakan rasa bahagia, sebab apa yang terpendam telah diungkapkan. Yah itu saja.

Wah, kamu adalah orang yang selalu mencari kebahagiaan, kamu galau yah?

Tidak kok, ah buku kamu bisa ajah.

Seseorang yang suka menulis meski memiliki definisi tersendiri yang menjadikan alasan kenapa dia harus menulis. Yah itu ajah, selamat menulis dan semoga menjadi penulis😂😂.

Iklan

Teacher

Pinterest

‍Berbicara tentang sosok guru, saya jadi teringat dengan guru matematika sewaktu saya kelas XII. Seorang yang punya rasa tanggung jawab dan profesional, Katanya sakitnya tidak terdeteksi, yang membuat saya prihatin dan tersentuh dengan kaki yang tidak bisa berjalan beliau tetap saja ingin mengajar, bahkan dikelas saya yang kadang ribut.

Jika ingin berdiri beliau harus ditopang jadi, jika sudah masuk jam mengajarnya kalau dia tidak menelpon saya, maka saya dan satu orang teman
akan menghampirinya di ruang guru untuk membantunya hingga sampai di kelas kami, tidak hanya itu ketika di kelas dengan susah payah dia sangat ingin berdiri menggapai papan tulis dengan berpegangan pada mejanya, saat memberi penjelasan.

Saya tidak begitu akrab dengannya tapi beliau adalah sosok yang begitu inspiratif. Selalu menyemangati kami untuk belajar untuk melanjutkan pendidikan dan untuk lebih baik kedepannya. Meski saya tidak begitu suka dengan pelajaran matematika tapi entah kenapa setiap mata pelajaran ini dengan ibu guru yang punya semangat mengajar tinggi saya jadi semangat untuk belajar matematika.

Sosok guru bagi saya adalah seorang yang sangat berjasa dalam kehidupan . Oleh karenanya saya juga sangat ingin bergelut dengan profesi ini.😁

Sebelumnya salah? Jangan lagi.

Sebuah kesalahan adalah pelajaran, setiap orang tentunya mampu berkata seperti itu tapi, dalam penerapannya? Nihil hasilnya, kadang mereka memandang kesalahan itu sebagai belenggu yang tidak bisa lepas dari dalam dirinya. Tentu ini adalah sebuah kesalahan yang berlarut-larut. Orang yang bijak dalam kehidupannya, yang bijak dalam menanggapi kesalahan sebagai perbaikan kedepannya.

Lalu, apa yang membuatnya sampai tak ingin belajar dari kesalahan? Yah tentunya kepercayaan terhadap diri sendiri. Penyebab dari kurangnya percaya diri bisa datang dari dalam diri dan juga lingkungan sekitar.

Menurut saya ketika salah dan kecewa wajar-wajar saja yang tidak wajar adalah tetap terkungkung dan tak mau lepas dari kesalahan yang sama, cobalah cari celah dan perbaiki semuanya. Bersemangat mencapai apapun yang ingin dicapai dengan kerja keras dan kegigihan. Kalau salah coba belajar dari kesalahan itu.

Believe in your self

💜

Bercanda terus, kapan seriusnya?


Gambar dari pinterest

Kadang setiap percakapan saya menyisipkan candaan . Yah saya mungkin,ini mungkin ya, dikenal sebagai orang yang suka bercanda. Bercanda menurut saya sudah bersemayam dalam jiwa saya, hahaha. Dikenal sebagai orang ceria? Saya suka itu, yang paling saya tidak sukai adalah ketika saya pada hari tertentu kelihatan murung, hmm pasti ditanya kenapa? Kenapa? Padahal, hei tidak ada apa-apa. Hanya berusaha jadi pendiam. Hahahha. Tapi sungguh saya merasa sangat susah untuk mengubah karakter saya. Susah jadi orang lain, susah jadi pendiam. Ahahaa.


Eits tunggu dulu, sebagai orang yang suka bercanda saya juga harus memperhatikan perkataaan yang dapat menyinggung orang lain, atau bisa dikatakan memperhatikan adab ketika berbicara apatah lagi bercanda. Pernah suatu ketika saya telah melontarkan candaan yah dengan maksud untuk menghibur orang ehh, malah salah bicara. Setelah kejadian itu saya segera harus sadar ketika hendak bercanda, memilah perkataan yang lucu dan tidak menyinggung orang lain.


Selain memperhatikan perkataan, saya juga memperhatikan umur orang yang hendak dibercandai jangan sampai, ketika kita bercanda pada orang dewasa lalu dianggap meledeknya, naudzubillah. Ketahuilah para orang yang pernah ketika berbicara dengan saya dan saya akhirnya bercanda, saya hanya berniat mengibur bukan yang lain. Tapi apalah daya manusia yang penuh khilaf ini.
Meski dengan banyaknya kesalahan yang saya lakukan dalam bercanda saya telah belajar dari itu dan akan terus menghibur dengan candaan ketika berjumpa. Hahahaa.


Semoga kedepannya saya selalu memperhatikan adab berbicara terutama ketika bercanda.

Mitos-1

Saat saya menuliskan dengan judul mitos beberapa hari yang lalu, kami kembali berbincang-bincang dan Hera pun menceritakan mitosnya. Saya juga baru dengar sih mitos ini tapi seorang Liza yang sangat berjauhan kampung dengan hera tahu loh mitos itu. Asik juga sih berbincang kalau tahu atau pernah dengar dengan apa yang dibicarakan. Saya hanya diam, menyimak. Hmmmm.

“Kalau di kampung saya” kata Hera, kalau ada makanan (bekal misalnya) yang dibawa ke sekolah atau ke mana pun ketika makanan itu kemudian tidak di makan dan dibawa kembali kerumah maka, sebagai orang yang bawa makanan tadi sudah tidak boleh memakannya. Lalu siapa yang makan, yahh orang lain. Entah makna apa yang dapat dipetik.

Saya bahkan banyak mendengarkan mitos-mitos yang kemudian sangat dipercaya bagi sebagian kaum ibu-ibu di kampung, biasanya sih, ada dampak-dampak negatif tertentu, katanya. Wallahu a’lam.

Mengerikan-2

‍‍‍‍
kenapa sesuatu yang begitu lucu menurut orang lantas menakutkan bagi saya😐. Saya sebenarnya merasa sedih karena seharusnya saya suka, yah karena begitu lucu, tapi tetap saja saya takut.

Saya selalu membayangkan hal-hal aneh dengan bertemu anak kucing. Hahahahha. Misalnya saya sedang ulang tahun dan ternyata di kasih kado dan isinya anak kucing, wah saya mungkin akan pingsan, sangking takutnya saya pada anak kucing.

Gambar dari google

Kalau Mama atau Bapaknya kucing saya tidak begitu takut, tapi entah kenapa saya begitu takut dengan anaknya. Yah kok gitu? Saya juga tidak tahu mengapa hai  para penyuka kucing. Saya kadang sedih, padahal hewan kesayangan Rasulillah SAW adalah kucing.

Saya berusaha mengingat-ingat hal atau kejadian apa yang membuat saya takut dengan si mungil itu. Tapi sepertinya tak ada alasannya. Hmmmm.

Mitos

‍‍Cerita mitos hari ini. Itu yang membuat saya bahagia, meski harus ke kampus dan akhirnya dosen tidak bisa masuk untuk mengajar. Semakin hari semakin saya di dekatkan dengan orang-orang yang bisa membuat saya tersenyum entah berapa cm. Hahahahah. Bahkan lebih dari senyum, sampai ketawa-ketiwi pula.

Ada beberapa mitos yang kami satu persatu ceritakan dan sungguh receh.

Lina punya mitos bahwa kalau kaki kita di injak, kita harus injak balik.

Liza punya mitos kalau kaki tersandung maka kita harus mundur tiga kali dan mengucapkan Allahu Akbar, kemudian lanjut berjalan.

Ini entah mitos atau bukan dari Kucca kalau bahu kanannya di pukul maka bahu kirinya kembali dia pukul katanya supaya seimbang . Hahaahaha.

kembali lagi Kucca bilang kalau kepala kejedot satu kali maka dia kembali untuk membenturkan kepala sebanyak dua kali.

Tersisa satu mitos yang membuat kami tertawa sambil berjalan.

Ada yang pernah cari kutu? Hahahha
ketika seorang pencari kutu menemukan telur kutu kemudian menindis di atas kepala dan tanpa sengaja percikan airnya dari telur kutu, terkena kepada pencari kutu maka kita harus membenturkan tangan kita ke kepala orang yang sedang di carikan kutunya. Nah ini mitos dariku.

Dari mitos-mitos di atas tentunya kami bawa dari kampung masing-masing.

Hera belum menceritakan mitosnya, hanya sibuk ketawa. Hmm apa yah mitos dari Hera? Hahaahah.